Seperti yang di publikasikan oleh www.mandorayub.com Perencanaan struktur hubungan balok kolom atau yang dikenal dengan Beam Column Joint, sangat diharuskan terutama pada Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Dimana pada konsep desain SRPMK, kita harus memastikan kolom mempunyai kapasitas yang lebih besar daripada balok, sehingga kegagalan struktur pada kolom dan joint dapat dicegah dengan membuat titik lemah (sendi plastis) pada zona 2h dari ujung balok. Contoh kasus hubungan balok kolom (Beam Column Joint) yang ditinjau adalah pada portal bagian tengah dengan spesifikasi penampang sebagai berikut :
Informasi Bangunan, Proyek , Kontruksi, Ilmu Sipil, Arsitek, Rumah, Taman, Kantor, Gudang
Home » Posts filed under Balok
Showing posts with label Balok. Show all posts
Showing posts with label Balok. Show all posts
Daftar Harga Kayu Jati dan Kayu Akasia
- kayu jati kelas 1 Rp. 75.000,-
- kayu jati kelas 2 Rp. 50.000,-
2. Gawang (ukuran 6 x 12 )
a. bahan kayu jati kelas 1 Rp. 100.000,-/meter
b. bahan kayu jati kelas 2 Rp. 75.000,- /meter
c. bahan kayu jati kelas 3 Rp. 50.000,- /meter
d. bahan kayu akasia kelas 1 Rp. 75.000,- /meter
e. bahan kayu akasia kelas 2 Rp. 60.000,- /meter
f. bahan kayu akasia kelas 3 Rp. 40.000,- /meter
3. Gawang ukuran 7 x 15
a. bahan kayu jati kelas 1 Rp. 200.000,-/meter
b. bahan kayu jati kelas 2 Rp. 150.000,- /meter
c. bahan kayu jati kelas 3 Rp. 100.000,- /meter
d. bahan kayu akasia kelas 1 Rp. 150.000,- /meter
e. bahan kayu akasia kelas 2 Rp. 100.000,- /meter
f. bahan kayu akasia kelas 3 Rp. 75.000,- /meter
4. Balok kayu ukuran 8 x 12
a. Bahan kayu jati kelas 1, harga Rp. 150.000,-/meter
b. Bahan kayu jati kelas 2, harga Rp. 100.000,-/meter
c. Bahan kayu akasia kelas 1, harga Rp. 100.000,-/meter
d. Bahan kayu akasia kelas 2, harga Rp. 75.000,-/meter
5. Almari kayu jati
a. Almari kayu jati 2 pintu, harga Rp. 1.500.000,-
b. Almari kayu jati 3 pintu, harga Rp. 2.500.00,-
6. Daun Pintu Kayu jati , harga Rp. 500.000,- sampai Rp. 600.000,-
7. Daun Jendela kayu jati , harga Rp. 200.000,- sampai Rp. 350.000,- /satuan
8. Usuk rumah (ukuran 5 x 7)
a. Bahan kayu jati kelas 1, harga Rp. 25.000,-/meter
b. bahan kayu jati kelas 2, harga Rp. 20.000,-/meter
c. bahan kayu akasia kelas 1, harga Rp. 20.000,-/meter
d. bahan kayu akasia kelas 2, harga Rp. 15.000,-/meter
9. Blandar Rumah (ukuran 6 x 10)
a. kayu jati kelas 1, harga Rp. 100.000,-/meter
b. kayu jati kelas 2, harga Rp. 75.000,-/meter
c. kayu akasia kelas 1, harga Rp. 75.000,-/meter
d. kayu akasia kelas 2, harga Rp. 50.000,-/meter
10. Meja kantor/meja setengah biru / MEJA KANTOR , harga Rp. 500.000,- (meja dan kursi)
HARGA LEBIH JELAS SESUAI TINGKAT KESULITAN DAN KUALITAS
KONTAK KAMI
Alamat : Celep Rt.22, Celep, Kedawung, Sragen, Jawa Tengah 57292
Lihat di Peta google map KLIK SINI
Hanphone :
- 0856 8547 525 ( indosat )
- 081 226 501 760 ( telkomsel )
- 087 835 200 877 ( xl )
email :
- ud.aurelia.sanjaya@gmail.com
- mandorayub@gmail.com
Label:
akasia,
bahan,
Balok,
blandar,
DAFTAR HARGA,
daun jendela,
daun Pintu,
jati,
Kayu Akasia,
KAYU JATI,
kelas,
USUK
komposit baja beton
Struktur komposit (Composite) merupakan struktur yang terdiri dari dua material atau lebih dengan sifat bahan yang berbeda dan membentuk satu kesatuan sehingga menghasilkan sifat gabungan yang lebih baik. Umumnya srtuktur komposit berupa :
1. Kolom baja terbungkus beton / balok baja terbungkus beton
2. Kolom baja berisi beton/tiang pancang
3. Balok baja yang menahan slab beton
Perencanaan komposit mengasumsi bahwa baja dan beton bekerja sama dalam memikul beban yang bekerja, sehingga akan menghasilkan desain profil/elemen yang lebih ekonomis. Dismping itu struktur komposit juga mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya adalah lebih kuat (stronger) dan lebih kaku (stiffer) dari pada struktur non-komposit.
Metode Load and Resistance Factor Design (LRFD) sebenarnya merupakan suatu metode yang baru dan telah lama diperkenalkan, namun di Indonesia relatif masih jarang disentuh oleh kalangan akademisi maupun praktisi di lapangan, Oleh sebab itu pada makalah ini mencoba sedikit membahas penggunaan metode LRFD.
PENENTUAN DIMENSI ELEMEN STRUKTUR, PEMBESIAN, Balok, Sloof, Kolom, Pelat
A. Balok Induk
Balok merupakan elemen struktur pemikul momen yang berfungsi mentransfer beban dari pelat ke kolom. Dimensi tinggi balok induk ditentukan berdasarkan rule of thumb sebagai berikut : Untuk bentang antar kolom 8 m, maka tinggi balok induk = 8000 mm/12 = 666,67 ~ 700 mm. Lebar balok diambil= h/2 = 700 mm/2 = 350 mm. B1-350x700 mm.
B. Balok Anak
Dimensi tinggi balok anak ditentukan berdasarkan rule of thumb sebagai berikut : Untuk bentang antar balok induk 8 m, maka tinggi balok anak = 8000 mm/16 = 500 mm. Lebar balok diambil = h/2 = 500 mm/2 = 350 mm. B2-250x500 mm
C. Sloof
Sebagai pengikat struktur diatas tanah digunakan sloof SL1-300x600 dan SL2-250x500. Sloof ini diharapkan dapat menahan beban dinding diatasnya serta meningkatkan kekuatan serta kekakuan lentur pondasi.
D. Pelat
Pelat yang digunakan merupakan pelat dua arah. Pelat dua arah memiliki kelebihan diantaranya dalam hal kekakuan lantai yang lebih besar dalam dua arah pembebanan gempa. Meskipun begitu, perencana struktur juga biasa menggunakan tipe pelat satu arah untuk menghemat volume tulangan dalam arah tertentu. Dimensi pelat ditentukan berdasarkan rule of thumb sebagai berikut : Untuk bentang pelat diantara pendukungnya sebesar 4 m, maka tebal pelat = 4000 mm/30 = 130 mm~150 mm. PL1-150 mm Pelat atap diasumsikan memiliki beban yang lebih ringan daripada pelat lantai. Tinggi pelat atap dimabil sebagai PL2-120 mm.
E. Kolom
Kolom merupakan elemen vertikal yang menerima transfer beban dari pelat dan balok, kemudian meneruskannya ke tanah melalui kontruksi pondasi. Gaya aksial yang bekerja pada kolom dikondisikan memiliki nilai >> 0.1 Ag fc’ . Perkiraan gaya aksial kolom dapat diperoleh dari hasil running analysis software SAP 2000 dengan dimensi kolom yang diasumsikan terlebih dahulu.
DARI BERBAGAI SUMBER : http://sipilworld.blogspot.com/2013/02/penentuan-dimensi-elemen-struktur.html
DARI BERBAGAI SUMBER : http://sipilworld.blogspot.com/2013/02/penentuan-dimensi-elemen-struktur.html
Label:
anak,
ANAK BALOK,
Balok,
DIMENSI,
ELEMEN,
Kolom,
pelat,
PEMBESIAN,
PENENTUAN,
SLOOF,
struktur
ANALISIS DAN DESAIN KOLOM, pembesian
![]() |
| Kolom |
- Tinggi kolom Lt 1 = 3,5 meter
- Tinggi kolom Lt 2 = 3,5 meter
- Dimensi balok Induk = 400 x 200 mm
- Dimensi balok anak = 250 x 150 mm
- Pelat lantai (t) = 120 mm
- Pelat atap (t) = 100 mm
Pembebanan pada kolom
Beban yang bekerja pada kolom lantai 1 diakumulasikan dengan beban-beban yang bekerja pada kolom lantai 2. Hal ini dilakukan agar dimensi kolom lantai 1 tidak lebih kecil dari dimensi kolom pada lantai 2. Perhitungan pembebanan pada kolom adalah sebagai berikut:
a) Pembebanan kolom lantai 2
Distribusi pembebanan kolom lantai 2, berasal dari dak atap pada elevasi 7 m dan ring balok lantai 2. Perhitungannya sebagai berikut :
Perhitungan beban mati yang bekerja pada kolom adalah sebagi berikut:
Perhitungan beban mati yang bekerja pada kolom adalah sebagi berikut:
Wbalok
- A x x L
- [ 0,4 x 0,2 x 2400 x ( 2,25 + 2,5 + 2 ) ]
- 1104 kg
Wpelat
- beban pelat atap
- A x x tpatap
- ( 4,75 x 2 ) x 2400 x 0,1
- 2280 kg
Data berat plafon dan penggantung diperoleh dari Perencanaan Pembebanan untuk rumah dan gedung, dimana:
Berat eternit/plafon (tebal 4mm) = 11 kg/m2
Berat penggantung (dari kayu) = 7,0 kg/m
Total beban mati pada lantai 2 adalah:
WDL2
- Wbalok + Wpelat + Wplafon
- 1104 kg + 2280kg + 171 kg
- 3555 kg
Beban hidup yang bekerja pada lantai dan membebani kolom di lantai dua ini adalah :
WLL2
- 200 kg/m2 x 4,75 x 2
- 1900 kg
Nilai beban hidup diperoleh dari pedoman perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung, dimana bangunan tersebut berfungsi sebagai rumah tinggal dan mempunyai nilai beban hidup sebesar 200 kg/m2.Maka beban yang terjadi pada kolom lantai 2 seluruhnya dapt dihitung dengan kombinasi pembebanan, sehingga beban pada kolom lantai 2 adalah:
W2
- 1,2 WDL2+ 1,6WLL2
- (1,2 x 3555) + (1,6 x 1900 )
- 7306 kg
b) Pemebebanan Kolom Lantai 1
Distribusi pembebanan kolom lantai 1, berasal dari lantai 2 pada elevasi 3,5 m. Elemen-elemen yang diperhitungkan sama dengan pembebanan kolom lantai 2 ditambah dengan perhitungan beban mati dan beban hidup untuk kolom lantai 1.
Perhitungannya beban mati yang bekerja pada kolom adalah sebagai berikut:
Wbalok
Distribusi pembebanan kolom lantai 1, berasal dari lantai 2 pada elevasi 3,5 m. Elemen-elemen yang diperhitungkan sama dengan pembebanan kolom lantai 2 ditambah dengan perhitungan beban mati dan beban hidup untuk kolom lantai 1.
Perhitungannya beban mati yang bekerja pada kolom adalah sebagai berikut:
Wbalok
- A x x L
- { 0,25 x 0,15 x 2400 x ( 2,25 + 2,5 + 2 )
- 607,5 kg
Wkolom
- A x x L
- (0,25 x 0,15) x 2400 x 3,5
- 315 kg
Wpelat
- beban pelat
- A x x tppelat
- ( 2 x 4,75 ) x 2400 x 0,12
- 2736 kg
Wwall
- A x (berat plafon + penggantung)
- ( 3,5 x 4,75 ) x 250 kg/m2
- 4156,25 kg
Wfinishing
- A x [berat spesi (adukan) + ubin + pasir urug]
- ( 2 x 4,75 ) x (21 kg.m2 + 22 kg/m2 + 24 kg/m2)
- 636,5 kg
Besar beban finishing dan beban dinding diperoleh dari peodman perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung.
Wplafon
- A x ( berat plafon + penggantung)
- (4,75 x 2) x 18 kg/m2
- 171 kg
Data berat plafon dan penggantung diperoleh dari Perencanaan Pembebanan untuk rumah dan gedung, dimana:
Berat eternit/plafon (tebal 4mm) = 11 kg/m2
Berat penggantung (dari kayu) = 7,0 kg/m2
Total beban mati pada lantai 1 adalah:
WDL1
WDL1
- Wbalok + Wkolom + Wwall + Wpelat + Wplafon + Wfinishing + WDL2
- 607,5 + 315 + 4156,25 + 2736 + 171 + 636,5 + 3555
- 12177,25 kg
WLL1
- 200 kg/m2x 4,75 x 2
- 1900 kgNilai beban hidup diperoleh dari pedoman perencanaan pembebanan untuk ruma dan gedung, dimana bangunan tersebut berfungsi sebagai rumah tinggal dan mempunyai nilai beban hidup sebesar 200 kg/m2.Maka beban yang terjadi pada kolom lantai 2 seluruhnya dapt dihitung dengan kombinasi pembebanan, sehingga beban pada kolom lantai 2 adalah:W1
- 1,2 WDL1 + 1,6WLL1
- (1,2 x 12177,25) + (1,6 x 1900)
- 17652,7 kg
Perhitungan Dimensi Awal Kolom
Perhitungan dimensi awal kolom dihitung berdasarkan SK SNI 03-2847-2002, dengan persamaan berikut:
Ø Pn (max) = 0,8 Ø [ (0,85 . fc’ (Ag – Ast) + fy Ast ]
Ø Pn (max) = 0,8 Ø [ (0,85 . fc’ (Ag – Ast) + fy Ast ]
Dimana :
Ø Pn (max) = Beban aksial maksimum
Ag = Luas penampang kolom
Ast = 1,5 % x Ag
Maka perhitungan dimensi awal kolom adalah sebagai berikut: Ø Pn(max) = 0,8 Ø [ (0,85 . fc’ (Ag – Ast) + fy Ast ]
Pn(max) = 0,8 Ø [ (0,85 . fc’ (Ag – Ast) + fy Ast ]
= 0,8 [ (0,85 . 25 (Ag – 0,015 . Ag) + 400 . 0,015 . Ag]
= 0,8 [(21,25 . (Ag – 0,015 . Ag) + 6Ag]
= 0,8 [ 21,25 Ag – 0,32 Ag + 6Ag]
Ag = 0,0464 Pn(max)
a) Dimensi Kolom Lantai 2
Dimensi kolom lantai 2 dihitung sebagai berikut :
Beban yang bekerja pada kolom lantai 2 = W2 = 8408,8 kg
Ag = 0,0464 Pn(max)
= 0,0464 . 8408,8 kg
= 390,168 cm2
Dimabil lebar kolom (b) = tebal dinding, yaitu sebesar 15 cm
= 390,168 cm2
Dimabil lebar kolom (b) = tebal dinding, yaitu sebesar 15 cm
Maka panjang kolom adalah :
h = Ag / b
= 390,168 / 15
= 26,011 cm ≈ 30 cm
Maka dimensi kolom K1 150 x 300 mm
b) Dimensi Kolom Lantai 1
Dimensi kolom lantai 2 dihitung sebagai berikut :
Beban yang bekerja pada kolom lantai 1 = W1 = 20009,2 kg
Ag = 0,0464 Pn(max)
= 0,0464 . 20009,2 kg
= 928,427 cm2
Dimabil lebar kolom (b) = tebal dinding, yaitu sebesar 30 cm
Maka panjang kolom adalah :
h = Ag / b
= 928,427/ 30
= 30,948 cm ≈ 40 cm
Maka dimensi kolom K1 300 x 400 mm
TABEL DIMENSI KOLOM
Tipe Balok | h (mm) | b (mm) |
Kolom lantai I | 400 | 300 |
Kolom lantai II | 300 | 150 |
dari berbagai sumber : http://sipilworld.blogspot.com
Label:
atap,
Balok,
beban,
DIMENSI,
GEDUNG,
K,
Kolom,
lantai,
pelat,
Pembebanan,
Perencanaan,
rumah,
TABEL
Balok BETON
Desain Balok Kantilever
Nah, di sini saya punya 2 poin sekaligus asumsi:
- Apakah
sudah termasuk berat sendiri? Kita asumsikan SUDAH. Jadi kita ngga usah hitung lagi berat sendirinya.
- Beban hidup dan mati di atas, apakah diaplikasikan di sepanjang balok? Kita asumsikan IYA. Beban
dan
bekerja di sepanjang balok.
- Kombinasi pembebanan tidak ditentukan. Jadi, kita asumsikan menggunakan kombinasi pembebanan sesuai ACI/SNI.
Karena baloknya kantilever, maka momen lenturnya negatif, artinya serat atas mengalami tarik, serat bawah mengalami tekan. Jadi, yang kita desain kali ini adalah tulangan tarik atau tulangan atas.
- Momen di ujung batang (tumpuan) akibat beban mati dan beban hidup.
Dengan cara yang sama, - Menghitung momen ultimit dengan Kombinasi Pembebanan,
—<—menentukan
—
Jadi,
Tahan II. Desain Tulangan Balok
Teori dan prosedurnya bisa dibaca di sini
, dan
- Untuk
, maka
- Asumsi, jarak antara serat terluar sampai tulangan tarik adalah mmmm… 50 mm. Jadi,
- Kebutuhan tulangan,
- Tulangan minimum,
–> OK kebutuhan tulangan masih lebih besar, gunakan
- Tulangan maksimum,
Atau,–> OK, masih lebih kecil dari tulangan maksimum.
- Tinggal pilih, mau pake diameter berapa.
D16, As = 201 mm2 –> jumlah yang dibutuhkan 4.39 dibulatkan ke atas menjadi 5. (5D16, As = 1005 mm2)
D19, As = 283 mm2 –> jumlah yang dibutuhkan 3.12 dibulatkan ke atas menjadi 4. (4D19, As = 1132 mm2)
D22, As = 380 mm2 –> jumlah yang dibutuhkan 2.33 dibulatkan ke atas menjadi 3. (3D22, As = 1140 mm2) - Kita akan memilih 5D16, karena itu yang paling mendekati luas tulangan yang diperlukan (883.93 mm2).
- Cek ulang kapasitas penampang. Hitung dulu tinggi blok tekan, a
- Hitung ulang
- Hitung momen nominal penampang,
- Bandingkan momen nominal penampang, harus lebih besar daripada momen ultimit.
OK kan?
Rahasia: pada step #8 di atas, kalo mau pake D19, sebenarnya kita bisa pake 3 buah D19, hasil baginya cukup dekat ke 3… yaitu 3.12. Walaupun As-nya nanti menjadi 3×283 = 849 mm2 (lebih kecil dari yg diperlukan, 883.93 mm2), tapi kalau kita teruskan ke langkah #9 sampai selesai dengan menggunakan 3D19, akan diperoleh momen nominal 73.17 kNm (masih lebih besar daripada momen ultimit)
Bukankah yang lebih penting dalam desain LRFD, tahanan nominal harus > beban/gaya ultimit.
Update:
Metode di atas adalah salah satu contoh. Masih ada metode-metode lain yang dapat digunakan, misalnya dengan persamaan kuadratik, dengan grafik, atau dengan hitungan cepat ala konsultan.
mohon dikoreksi,
semoga bermanfaat[]
Balok BETON
Desain Balok Kantilever
Nah, di sini saya punya 2 poin sekaligus asumsi:
- Apakah
sudah termasuk berat sendiri? Kita asumsikan SUDAH. Jadi kita ngga usah hitung lagi berat sendirinya.
- Beban hidup dan mati di atas, apakah diaplikasikan di sepanjang balok? Kita asumsikan IYA. Beban
dan
bekerja di sepanjang balok.
- Kombinasi pembebanan tidak ditentukan. Jadi, kita asumsikan menggunakan kombinasi pembebanan sesuai ACI/SNI.
Karena baloknya kantilever, maka momen lenturnya negatif, artinya serat atas mengalami tarik, serat bawah mengalami tekan. Jadi, yang kita desain kali ini adalah tulangan tarik atau tulangan atas.
- Momen di ujung batang (tumpuan) akibat beban mati dan beban hidup.
Dengan cara yang sama, - Menghitung momen ultimit dengan Kombinasi Pembebanan,
—<—menentukan
—
Jadi,
Tahan II. Desain Tulangan Balok
Teori dan prosedurnya bisa dibaca di sini
, dan
- Untuk
, maka
- Asumsi, jarak antara serat terluar sampai tulangan tarik adalah mmmm… 50 mm. Jadi,
- Kebutuhan tulangan,
- Tulangan minimum,
–> OK kebutuhan tulangan masih lebih besar, gunakan
- Tulangan maksimum,
Atau,–> OK, masih lebih kecil dari tulangan maksimum.
- Tinggal pilih, mau pake diameter berapa.
D16, As = 201 mm2 –> jumlah yang dibutuhkan 4.39 dibulatkan ke atas menjadi 5. (5D16, As = 1005 mm2)
D19, As = 283 mm2 –> jumlah yang dibutuhkan 3.12 dibulatkan ke atas menjadi 4. (4D19, As = 1132 mm2)
D22, As = 380 mm2 –> jumlah yang dibutuhkan 2.33 dibulatkan ke atas menjadi 3. (3D22, As = 1140 mm2) - Kita akan memilih 5D16, karena itu yang paling mendekati luas tulangan yang diperlukan (883.93 mm2).
- Cek ulang kapasitas penampang. Hitung dulu tinggi blok tekan, a
- Hitung ulang
- Hitung momen nominal penampang,
- Bandingkan momen nominal penampang, harus lebih besar daripada momen ultimit.
OK kan?
Rahasia: pada step #8 di atas, kalo mau pake D19, sebenarnya kita bisa pake 3 buah D19, hasil baginya cukup dekat ke 3… yaitu 3.12. Walaupun As-nya nanti menjadi 3×283 = 849 mm2 (lebih kecil dari yg diperlukan, 883.93 mm2), tapi kalau kita teruskan ke langkah #9 sampai selesai dengan menggunakan 3D19, akan diperoleh momen nominal 73.17 kNm (masih lebih besar daripada momen ultimit)
Bukankah yang lebih penting dalam desain LRFD, tahanan nominal harus > beban/gaya ultimit.
Update:
Metode di atas adalah salah satu contoh. Masih ada metode-metode lain yang dapat digunakan, misalnya dengan persamaan kuadratik, dengan grafik, atau dengan hitungan cepat ala konsultan.
mohon dikoreksi,
semoga bermanfaat[]
Subscribe to:
Posts (Atom)

